Blackberry forcing calendar posting to BBM Group

ok, so I’ve had my Torch 9800 for a few months now. So far so good. I even joined some BBM groups.

My biggest mistake was pay notice to the “update available” icon, and performed a live system update.  The first thing that came-up after the system was upgraded and rebooted, was the dialog box asking me to upload my calendar to the BBM groups.  There was only two options for the user to answer: “yes” or “no”.  However, when I pressed “no”, the same dialog box came-up again.

Essentially the user is forced to choose “yes” (upload all my personal calendar to RIM).

The only response I could do was to pull the battery out, wait for 5 minutes. I rebooted and quickly did a “Master Erase” of all my data.  Even better, I then connected the Torch to my Mac and deleted all the RIM applications.

So here’s my question:  is RIM so desperate that they are now doing the usual trick of “forcing” the user to press the ok button? Are they desperately needing calendars to expand their BBM services?

My next phone won’t be a RIM device.

 



Hidung Pinocchio untuk Touch Screen

This has to be the funniest invention for 2011.  Pemanjang hidung dari plastik, untuk mengetik di layar touch screen. Begini gambarnya.

 

 

 



Sony PS network hacked: millions of account data stolen

Gimana sich:  Sony PS network memaksa saya untuk login setiap kali boot-up PS3, kemudian sekarang data saya dicuri orang. Padahal saya tidak memakai aplikasi2 pada Sony network.

Such a bad user-interface design.  This is another telling point as to why Sony completely missed the whole “Internet thing”, why Sony lost the digital-music player race (to iPod and iTunes) and perhaps why the PS3 console is slowly losing to other consoles.



How many people remember AppleTalk

Yesterday I had a meeting with a student at MIT (a senior), and got on talking about MacOS support for various security features.  Somehow we got on to talking about IP networking, about Ethernet as a standard and about how cumbersome it was in the 1980s and 1990s to setup a mixed network of Ethernet and AppleTalk.

To my surprise the student said:  AppleWhat?

So it seems he had never hear of AppleTalk before. It never occurred to me that the kids following the Gen-X generation would have never encountered AppleTalk.  When they started buying Macs (the yummy multi-color clam notebooks), the Mac had already moved to supporting plain old Ethernet.  Apple dropped AppleTalk starting with MacOS X.

What’s more interesting, the student had never encountered proprietary hardware. To him the world was simply USB, 802.3 (Ethernet) ports, WiFi (802.11) which always works, SVGA and others.

 



Nokia dibawah Apple

Hari ini ada artikel NY-Times mengenai posisi Nokia yg sudah turun menjadi No. 2, dibawah Apple iPhone. Dari segi pemasukan, kwartal yang lalu Apple ($11.9B) jelas-jelas diatas Nokia ($9.4B).

Saya sendiri kalau sehari-hari jarang sekali ketemu orang yg memakai ponsel Nokia. Kebanyakan orang memegang iPhone, Blackberry, Samsung atau HTC.

Keputusan Nokia untuk pindah ke OS Microsoft Windows-Phone juga belum tenetu menjamin sukses. Lha Windows Phone juga sedang menghadapi kesulitan mengatasi iPhone dan Android :-)

 

 



PayPal masih belum ada di Indonesia (idea startup)

Kemarin ini saya diskusi panjang dengan rekan saya dari PayPal (bagian engineering). Kemudian hal PayPal Indonesia muncul.  Dia tanya apa PayPal bisa di gunakan untk membeli barang produksi RI, seperti kain batik atau mebel/furniture. Terus terang saja saya bilang kurang tahu. I will get back to you.

Setelah googling sejam lebih, rupanya jelas bahwa PayPal masih belum “sreg” dengan kartu kredit dari Indonesia.  Agak mengherankan sich, padahal kan banyak bank-bank besar (seperti BCA) yg memiliki “rating” cukup tinggi dengan pihak Visa dan Mastercard.

Sesuai pepatah di Silicon Valley (“a problem is an opportunity”), rasanya ada kesempatan untuk startup di RI sebagai “bridge” pembayaran antara kartu-kredit RI dengan PayPal. Startup ini malah bisa berstatus sah sebagai bank, tetapi yg fungsinya terbatas hanya untuk (a) meng-issue kartu-kredit jenis terbatas, yg (b) penggunaanya hanya pada situs2 yg menerima PayPal. Pihak penjual dan pembeli membayar “service fee”, contohnya 0.25% dari nilai transaksi.

Mungkin sudah ada startup seperti ini di Jakarta, tapi rasanya belum dengar…



Visa H1B Masih Banyak

Tahun fiskal ini rupanya masih ada sekitar 30,000 lembar visa H1B yg tersedia dari total 65,000. Ini indikator serius bahwa ekonomi AS belum membaik. Apalagi bagi pihak pemerintah yg mengharap sektor IT dan Tech bisa mendorong pembaikan ekonomi.

Padahal tahun yg dulu-dulu, visa jenis H1B biasanya sudah langsung habis ludes dua atau tiga hari sesudah tanggal pembukaan (yaitu 1 April setiap tahun). Malah ada banyak perusahaan tech yg meminta Kongress untuk memperbanyak jumlah visa H1B menjadi sekitar 140,000 lembar pertahunnya.

Sigh…



RIM and Indonesia

The recent kerfuffle between RIM (BlackBerry maker) and the Saudi and Indian governments have brought attention in Indonesia to RIM. In particular, some governments were concerned about their ability to access encrypted traffic coming from BlackBerry Devices.

There seems to be a great deal of technical ignorance in Indonesia about how the RIM/BlackBerry encryption actually functions.  Many folks in Indonesia were under the impression that all their traffic are encrypted and that they all go through the RIM servers in Canada. Some are even saying that since RIM is directing traffic to Canada, they should be called an ISP, and therefore RIM should get an ISP License in Indonesia. Some even insist that RIM establish their server-farms in Indonesia for the Indonesian market.

Some folks voice concern about RIM’s impact on Indonesia national security. This is a valid concern, though most folks don’t realize that mobile network operators and ISPs in Indonesia have always had access to IP and mobile traffic in Indonesia.

Sigh…



Ruwetnya masalah .xxx gTLD

Rupanya ICANN sedang “under pressure” untuk menyetujui penciptaan .XXX top level domain (gTLD). Tahun lalu ICANN sudah sempat dituntut oleh ICM Registry, yaitu pihak yang mengajukan permohonan 6 tahun yang lalu.

Aplikasi permohonan untuk .XXX gTLD diajukan oleh ICM Registry kira-kira enam tahun yang lalu. Pada tahun 2005 permohonan tersebut di setujui oleh ICANN, dan kedua pihak sudah memasuki phase persetujuan teknis dan komersil. Tetapi kemudian ICANN membatalkan keputusannnya pada bulan Maret 2007, yang disusul oleh penuntutan oleh ICM Registry. Sekarang rupanya ICANN tidak punya alasan lagi.

Masalah .XXX gTLD ini sudah lama dibincang orang. Di satu pihak, pengadaan gTLD dapat mempermudah orang-tua dalam memblokir konten orang dewasa (ie. setting di browser), sehingga melindungi anak2 dari pengaruh buruk. Demikian pula pemerintah2 dan perusahaan2 dapat men-filter konten secara lebih mudah dengan hanya mendeteksi suffix nama domain.

Tetapi di lain pihak, adanya .XXX gTLD bukan jaminan bahwa .COM gTLD tidak lagi akan digunakan oleh situs konten dewasa. Dengan kata lain, situs2 dewasa masih bisa menggunakan domain .COM, .NET, .ORG dan lainnya.

Yang jelas, andaikan ICM Registry menang maka perusahaan itu akan mendapat bisnis banyak juga. Sehingga masalah ini bukan saja terkait hal2 sosial dan agama, tapi juga “duit” (as usual).

What do you think?



Cartoon: Internet is the thing FB runs on

I just love this cartoon from Geek-and-Poke.  Summarizes what the Internet is to many folks.